e-Learning "KOLOID"
Dalam postingan materi pada blog saya, saya akan memeberikan kesempatan untuk pembaca artikel saya ini dapat berbagi informasi. Disini saya akan membagikan dan menjelaskan informasi mengenai materi KOLOID. Disini kita akan mempelajari mengenai apa itu pengertian koloid, jenis- jenis koloid dan juga sifat-sifat koloid. Berikut penjelasannya :
Pengertian Koloid
Pengertian koloid
adalah campuran heterogen dari dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat
berukuran antara 1 hingga 1000 nm terdispersi (tersebar) merata dalam medium
zat lain. Zat yang terdispersi sebagai partikel disebut fase terdispersi,
sedangkan zat yang menjadi medium mendispersikan partikel disebut medium
pendispersi.
Secara makroskopis,
koloid terlihat seperti larutan, di mana terbentuk
campuran homogen dari zat terlarut dan pelarut. Namun, secara mikroskopis,
terlihat seperti suspensi, yakni campuran heterogen di mana masing-masing
komponen campuran cenderung saling memisah.
Warna pada cat
berasal dari warna pigmen yang sebenarnya tidak larut dalam air ataupun medium
pelarut lainnya. Namun demikian, cat terlihat seperti campuran yang homogen layaknya
larutan garam dan bukan seperti campuran heterogen layaknya campuran pasir
dengan air. Hal ini terjadi sebagaimana cat merupakan sistem koloid dengan
pigmen terdispersi dalam air atau medium pelarut cat lainnya.
Jenis-jenis Koloid
Sistem koloid dapat
dikelompokkan berdasarkan fase terdispersi dan fase pendispersinya. Berdasarkan
fase terdispersi, jenis koloid ada tiga, antara lain sol (fase tersispersi
padat), emulsi (fase terdispersi cair), dan buih (fase terdispersi gas). Koloid
dengan fase pendispersi gas disebut aerosol.
Berdasarkan fase
terdispersi dan pendispersinya, jenis koloid dapat dibagi menjadi 8 golongan
seperti pada tabel berikut.
Fase
Terdispersi
|
Fase
Pendispersi
|
Jenis
Koloid
|
Contoh
Koloid
|
Cair
|
Gas
|
Aerosol
|
Kabut,
awan, hair spray
|
Padat
|
Gas
|
Aerosol
|
Asa,
debu di udara
|
Gas
|
Cair
|
Buih
|
Buih
sabun, krim kocok
|
Cair
|
Cair
|
Emulsi
|
Susu,
santan, mayonnaise
|
Padat
|
Cair
|
Sol
|
Sol
emas, tinta, cat, pasta gigi
|
Gas
|
Padat
|
Buih
padat
|
Karet
busa, Styrofoam, batu apung
|
Cair
|
Padat
|
Emulsi
padat (gel)
|
Margarin,
keju, jelly, mutiara
|
Padat
|
Padat
|
Sol
padat
|
Gelas
berwarna, intan hitam
|
Sifat-sifat Koloid
1. Efek Tyndall
Ketika seberkas
cahaya diarahkan kepada larutan, cahaya akan diteruskan. Namun, ketika berkas
cahaya diarahkan kepada sistem koloid, cahaya akan dihamburkan. Efek
penghamburan cahaya oleh partikel koloid ini disebut efek Tyndall. Efek Tyndall
dapat digunakan untuk membedakan sistem koloid dari larutan. Penghamburan
cahaya ini terjadi karena ukuran partikel koloid hampir sama dengan panjang
gelombang cahaya tampak (400 – 750 nm).
Eksperimen efek
Tyndall: Cahaya diteruskan melalui larutan (kiri) tetapi dihamburkan oleh
sistem koloid Fe2O3 (kanan). (Sumber: Brown, Theodore L. et al. 2015.
Chemistry: The Central Science (13th edition). New Jersey: Pearson Education,
Inc.)
2. Gerak Brown
Secara mikroskopis,
partikel-partikel koloid bergerak secara acak dengan jalur patah-patah
(zig-zag) dalam medium pendispersi. Gerakan ini disebabkan oleh terjadinya
tumbukan antara partikel koloid dengan medium pendispersi. Gerakan acak
partikel ini disebut gerak Brown. Gerak Brown membantu menstabilkan partikel
koloid sehingga tidak terjadi pemisahan antara partikel terdispersi dan medium
pendispersi oleh pengaruh gaya gravitasi.
Muatan koloid
a. Adsorpsi
Partikel koloid dapat
menyerap partikel-partikel lain yang bermuatan maupun tidak bermuatan pada
bagian permukaannya. Peristiwa penyerapan partikel-partikel pada permukaan zat
ini disebut adsorpsi. Partikel koloid dapat mengadsorpsi ion-ion dari medium
pendispersinya sehingga partikel tersebut menjadi bermuatan listrik. Jenis
muatannya bergantung pada muatan ion-ion yang diserap. Sebagai contoh, sol
Fe(OH)3 dalam air bermuatan positif karena mengadsorpsi ion-ion
positif, sedangkan sol As2S3 bermuatan negatif karena
mengadsorpsi ion-ion negatif.
b. Elektroforesis
Partikel koloid dapat
bergerak dalam medan listrik. Hal ini menunjukkan bahwa partikel koloid
bermuatan listrik. Pergerakan partikel koloid dalam medan listrik di mana
partikel bermuatan bergerak ke arah elektrode dengan muatan berlawanan ini
disebut elektroforesis. Koloid bermuatan positif akan bergerak ke arah elektrode
negatif, sedangkan koloid bermuatan negatif akan bergerak ke arah elektrode
positif. Oleh karena itu, elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis
muatan koloid dan juga untuk memisahkan partikel-partikel koloid berdasarkan
ukuran partikel dan muatannya.
4. Koagulasi
Muatan listrik
sejenis dari partikel-partikel koloid membantu menstabilkan sistem koloid. Jika
muatan listrik tersebut hilang,
partikel-partikel koloid akan menjadi tidak stabil dan bergabung membentuk
gumpalan. Proses pembentukan gumpalan-gumpalan partikel ini disebut koagulasi.
Setelah gumpalan-gumpalan ini menjadi cukup besar, gumpalan ini akhirnya akan
mengendap akibat pengaruh gravitasi. Koagulasi dapat dilakukan dengan
empat cara, yaitu:
- mekanik, yakni dengan pengadukan, pemanasan atau pendinginan;
- menggunakan prinsip elektroforesis, di mana partikel-partikel koloid bermuatan negatif akan digumpalkan di elektrode positif dan partikel-partikel koloid bermuatan positif akan digumpalkan di elektrode negatif jika dialirkan arus listrik cukup lama;
- menambahkan elektrolit, di mana ion positif dari elektrolit akan ditarik partikel koloid bermuatan negatif dan ion negatif dari elektrolit akan ditarik partikel koloid bermuatan positif sehingga partikel-partikel koloid dikelilingi oleh lapisan kedua yang memiliki muatan berlawanan dengan lapisan pertama. Apabila jarak antara kedua lapisan tersebut cukup dekat, muatan partikel koloid akan menjadi netral sehingga terjadilah koagulasi. Semakin besar muatan ion dari elektrolit, proses koagulasi semakin cepat dan efektif;
- menambahkan koloid lain dengan muatan berlawanan, di mana kedua sistem koloid dengan muatan berlawanan akan saling tarik-menarik dan saling mengadsorpsi sehingga terjadi koagulasi.
Koagulasi dapat
dicegah dengan penambahan koloid pelindung, yakni suatu koloid yang berfungsi
menstabilkan partikel koloid yang terdispersi dengan membungkus partikel
tersebut sehingga tidak dapat saling bergabung membentuk gumpalan.
Dari materi diatas, saya telah jelaskan beberapa materi tentang KOLOID. Jika teman-teman ada pertanyaan bisa langsung ditanyakan pada kolom komentar dibawah ini. Silahkan dikomentari yaaaa. Terimakasih :)
Untuk menguji pemahaman teman-teman semua, saya membuat beberapa pertanyaan untuk teman-teman.
1. Bagaimana cara mencegah koagulasi??
2. Seperti apa itu gerak brown?
Saya akan ingin menanyakan tentang Muatan listrik sejenis yg bagaimana dari partikel-partikel koloid membantu menstabilkan sistem koloid?
BalasHapusOke terimakasih buat pertanyaannya dea, saya akan mencoba menjawab Partikel koloid mempunyai kemampuan menyerap ion atau muatan listrik pada permukaannya. Oleh karena itu partikel koloid bermuatan listrik. Penyerapan pada permukaan ini disebut dengan adsorpsi. Contohnya sol Fe(OH)3 dalam air mengadsorpsi ion positif sehingga bermuatan positif dan sol As2S3 mengadsorpsi ion negatif sehingga bermuatan negatif. Pemanfaatan sifat adsorpsi koloid dalam kehidupan antara lain dalam proses pemutihan gula tebu, dalam pembuatan norit (tablet yang terbuat dari karbon aktif) dan dalam proses penjernihan air dengan penambahan tawas.
HapusSaya akan menjawab pertanyaan no. 2 Secara mikroskopis, partikel-partikel koloid bergerak secara acak dengan jalur patah-patah (zig-zag) dalam medium pendispersi. Gerakan ini disebabkan oleh terjadinya tumbukan antara partikel koloid dengan medium pendispersi. Gerakan acak partikel ini disebut gerak Brown. Terimakasih
BalasHapusOkee... Terimakasih buat tanggapannya, dan saya akan menambahkan sedikit lagi yaitu Gerak Brown membantu menstabilkan partikel koloid sehingga tidak terjadi pemisahan antara partikel terdispersi dan medium pendispersi oleh pengaruh gaya gravitasi.
Hapus