Teori Pemrosesan Informasi Berbantuan Media
Teori Pemrosesan Informasi
Asumsi yang
mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari
pembelajaran. Berdasarkan temuan riset linguistik,
psikologi, antropologi dan ilmu komputer,
dikembangkan model berpikir. Pusat
kajiannya pada proses belajar dan menggambarkan
cara individu memanipulasi simbol dan
memproses informasi. Model belajar pemrosesan informasi Anita E.
Woolfolk (Parkay & Stanford, 1992) disajikan melalui skema yang
dikutip berikut ini.
Gambar 1. Model Teori Pemrosesan Informasi Atkinson dan Shiffrin
(Gambar:
Glassman & Hadad, 2009)
Model
belajar pemrosesan informasi ini sering
pula disebut model kognitif information processing,
karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf
struktural sistem informasi, yaitu:
1)
Sensory atau intake register:
informasi masuk ke sistem melalui sensory
register, tetapi hanya disimpan untuk
periode waktu terbatas. Agar tetap dalam
sistem, informasi masuk ke working memory
yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2)
Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di
working memory, dan di sini berlangsung
berpikir yang sadar. Kelemahan working memory
sangat terbatas kapasitas isinya dan
memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3)
Long-term memory, yang secara potensial
tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung
seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik.
Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses
informasi yang tersimpan di dalamnya.
Diasumsikan,
ketika individu belajar, di dalam dirinya
berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem
yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan
informasi ke dalam long-term memory
(materi memory atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah
(materi kreativitas). Pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja
disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara
hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja
berfokus pada bagaimana pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan
dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah
karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks,
animasi, narasi, warna, musik, serta video. Studi tentang
bagaimana informasi diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan
ditransfer dalam dan dari memori kerja untuk disimpan dalam memori jangka
panjang mengisyaratkan bahwa pendesainan pesan merupakan salah satu topik utama
dalam pendesainan multimedia instruksional. Dalam konteks ini, desain
pesan multimedia berkenaan dengan penyeleksian, pengorganisasian, pengintegrasian
elemen-elemen pesan untuk menyampaikan sesuatu informasi. Penyampaian informasi
bermultimedia yang berhasil akan bergantung pada pengertian akan makna yang
dilekatkan pada stimulus elemen-elemen pesan tersebut. Proses
penyeleksian, pengorganisasian, serta pengintegrasian elemen-elemen informasi
tersebut .
Dalam
mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang
disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik.
Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi,
misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer.
Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi,
misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada
jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang
diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai
contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat
dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar
komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau
kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam
bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya
istilah desan pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi
dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi
pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan bukti bahwa desain
pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas
performansi (Pranata, 2004). Beberapa teori yang melandasi perancangan
desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda,
teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean
ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal
dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan
memori kerja auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori
kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda
menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru
bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan,
diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan
dalam tiap . Temuan-temuan penelitian (Pranata, 2004) telah menguji kebenaran
teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran
pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau
memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja
verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk
memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan
kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual
maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak
mendesain sesuatu pesan multimedia.
Teori belajar yang oleh Gagne
(1988) disebut dengan ‘Information Processing Learning Theory’. Teori ini
merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di saat
memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga
‘Information-Processing Model’ oleh Lefrancois atau ‘Model Pemrosesan
Informasi’. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan
informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk
hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara
kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi
internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil
belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi
eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam
proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses
pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,
(1) motivasi;
(2) pemahaman;
(3) pemerolehan;
(4) penyimpanan;
(5) ingatan kembali;
(6) generalisasi;
(7) perlakuan;
(8) umpan balik.
Beberapa
model telah dikembangkan di antaranya oleh Gagne (1984), Gage dan Berliner
(1988) serta Lefrancois, yang terdiri atas tiga macam ingatan yaitu: sensory
memory atau Ingatan Inderawi (II), Ingatan Jangka Pendek (IJPd) atau
short-term/working memory, Ingatan Jangka Panjang (IJPj) atau long-term memory.
Berdasar ketiga model tersebut dapat dikembangkan diagram pemrosesan informasi
berikut ini:
INGATAN JANGKA PANJANG
(IJPj)
Ingatan Inderawi (II)
Sebagaimana
terlihat pada diagram di atas, suatu masukan/informasi yang terdapat pada
stimulus atau rangsangan dari luar akan diterima manusia melalui panca
inderanya. Informasi tersebut menurut Lefrancois akan tersimpan di dalam
ingatan selama tidak lebih dari satu detik saja. Ingatan tersebut akan hilang
lagi tanpa disadari dan akan diganti dengan informasi lainnya. Ingatan sekilas
atau sekelebat yang didapat melalui panca indera ini biasanya disebut ’sensory
memory’ atau ‘ingatan inderawi’. Berdasar pada apa yang dipaparkan di atas,
dapatlah disimpulkan bahwa, seperti yang telah sering dialami para guru dan
telah dinyatakan dua orang siswa di bagian awal tulisan ini, pesan atau
keterangan yang disampaikan seorang guru dapat hilang seluruhnya dari ingatan
para siswa jika pesan atau keterangan tersebut terkategori sebagai ingatan
inderawi. Alasanya, seperti sudah dipaparkan tadi, Ingatan Inderawi hanya dapat
bertahan di dalam pikiran manusia selama tidak lebih dari satu detik saja.
Pertanyaan penting yang dapat dimunculkan adalah: Bagaimana caranya agar
informasi atau keterangan seorang guru tidak akan hilang begitu saja dari
ingatan siswa.
Ingatan Jangka Pendek
(IJPd)
Suatu
informasi baru yang mendapat perhatian siswa, tentunya akan berbeda dari
informasi yang tidak mendapatkan perhatian dari mereka. Suatu informasi baru
yang mendapat perhatian seorang siswa lalu terkategori sebagai IJPd sebagaimana
dinyatakan Gage dan Berliner (1988, p.285) berikut: “When we pay attention to a
stimulus, the informations represented by that stimulus goes into short-term
memory or working memory.” Jelaslah bahwa IJPd adalah setiap Ingatan Inderawi
yang stimulusnya mendapat perhatian dari seseorang. Dengan kata lain, IJPd
tidak akan terbentuk di dalam otak siswa tanpa adanya perhatian dari siswa
terhadap informasi tersebut. IJPd ini menurut Lefrancois dapat bertahan relatif
jauh lebih lama lagi, yaitu sekitar 20 detik. Sebagai akibatnya, pengetahuan
tentang perbedaan antara kedua ingatan ini lalu menjadi sangat penting untuk
diketahui para guru dan diharapkan akan dapat dimanfaatkan selama proses
pembelajaran di kelasnya. Sekali lagi, perhatian para siswa terhadap informasi
atau masukan dari para guru akan sangat menentukan diterima tidaknya suatu
informasi yang disampaikan para guru tersebut. Karenanya, untuk menarik
perhatian para siswa terhadap bahan yang disajikan, di samping selalu
memotivasi siswanya, seorang guru pada saat yang tepat sudah seharusnya
mengucapkan kalimat seperti: “Anak-anak, bagian ini sangat penting.”
Tidak hanya itu, aksi diam seorang guru ketika siswanya ribut, mencatat hal dan
contoh penting di papan tulis, memberi kotak ataupun garis bawah dengan kapur
warna untuk materi essensial, menyesuaikan intonasi suara dengan materi,
memukul rotan ke meja, sampai menjewer telinga merupakan usaha-usaha yang patut
dihargai dari seorang guru selama proses pembelajaran untuk menarik perhatian
siswanya. Namun hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana menumbuhkan
kemauan dan motivasi dari dalam diri siswa sendiri, sehingga para siswa akan
mau belajar dan memperhatikan para gurunya selama proses pembelajaran sedang
berlangsung.
Ingatan Jangka Panjang
(IJPj)
Mengapa
Ibukota Indonesia jauh lebih mudah diingat daripada Ibukota Negeria? Untuk
menjawabnya, perlu disadari adanya suatu kenyataan bahwa Jakarta jauh lebih
sering disebut dan didengar namanya daripada Lagos; misalnya dari buku,
pembicaraan, televisi, ataupun koran. Karenanya, Jakarta sebagai Ibukota
Indonesia kemungkinan besar sudah tersimpan di dalam IJPj. Informasi yang sudah
tersimpan di dalam IJPj ini sulit untuk hilang, sehingga Jakarta dapat diingat
dengan mudah. Jelaslah bahwa IJPj adalah IJPD yang mendapat pengulangan. Kata
lainnya IJPj tidak akan terbentuk tanpa adanya pengulangan. Dapatlah
disimpulkan sekarang bahwa pengulangan merupakan kata kunci dalam proses pembelajaran.
Karenanya, latihan selama di kelas atau di rumah merupakan kata kunci yang akan
sangat menentukan keberhasilan atau ketidak berhasilan suatu pengetahuan yang
diingat dalam jangka waktu yang lama. Itulah sebabnya, ada guru berpengalaman
yang menyatakan kepada siswanya bahwa akan jauh lebih baik untuk belajar 6 × 10
menit daripada 1 × 60 menit. Selain pengulangan atau latihan, beberapa hal
penting yang harus diperhatikan Bapak dan Ibu Guru agar suatu pengetahuan dapat
diingat siswa dengan mudah adalah:
1. Sesuatu yang sudah
dipahami akan lebih mudah diingat siswa daripada sesuatu yang tidak
dipahaminya. Contohnya, proses untuk mengingat bilangan 17.081.945 akan jauh
lebih mudah daripada proses mengingat bilangan 51.408.791 karena bilangan
pertama sudah dikenal para siswa, apalagi jika dikaitkan dengan hari
kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 yang dapat ditulis menjadi 17–08–1945.
2. Hal-hal yang sudah
terorganisir dengan baik akan jauh lebih mudah diingat siswa daripada hal-hal
yang belum terorganisir. Contohnya, mengingat susunan bilangan 4, 49, 1, 16, 9,
36, dan 25 akan jauh lebih sulit daripada mengingat bilangan berikut yang sudah
terorganisir dengan baik: 1, 4, 9, 16, 25, 36, dan 49.
3. Sesuatu yang menarik
perhatian siswa akan lebih mudah diingat daripada sesuatu yang tidak menarik
hatinya. Acara televisi yang menarik perhatian para siswa akan memungkinkan
para siswa untuk duduk berjam-jam di depan TV dan jalan ceriteranya akan mampu
mereka ingat dengan mudah. Namun hal yang sebaliknya akan terjadi juga, yaitu
suatu proses pembelajaran yang tidak menarik perhatian mereka dapat menjadi
beban bagi siswa dan tentunya juga bagi para guru.
PERMASALAHAN :
1. Jelaskan tiga taraf struktural sistem informasi dalam teori pemrosesan informasi !
2. Dalam
mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang
disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik . Jelaskan!
3. Selain
pengulangan atau latihan, tolong anda jelaskan beberapa hal penting yang harus kita perhatikan sebagai calon Bapak
dan Ibu Guru agar suatu pengetahuan dapat diingat siswa dengan mudah !
Saya desi ratna sari akan menjawab permasalahan nomor 2
BalasHapusMedia pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan no 3.
BalasHapusHal yang paling utama di lakukan seorang guru yaitu pemilihan bahan ajar dimana materi pembelajaran perlu dipilih dengan tepat agar seoptimal mungkin membantu siswa dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Masalah-masalah yang timbul berkenaan dengan pemilihan materi pembelajaran menyangkut jenis, cakupan, urutan, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran dan sumber bahan ajar. Jenis materi pembelajaran perlu diidentifikasi atau ditentukan dengan tepat karena setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi, media, dan cara mengevaluasi yang berbeda-beda. Cakupan atau ruang lingkup serta kedalaman materi pembelajaran perlu diperhatikan agar tidak kurang dan tidak lebih. Urutan (sequence) perlu diperhatikan agar pembelajaran menjadi runtut. Perlakuan (cara mengajarkan/menyampaikan dan mempelajari) perlu dipilih setepat-tepatnya agar tidak salah mengajarkan atau mempelajarinya (misalnya perlu kejelasan apakah suatu materi harus dihafalkan, dipahami, atau diaplikasikan).
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ke 1
BalasHapusModel belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1) Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2) Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3) Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.